MELAWAN “HOAK “ DARI SEKOLAH

Pada masa sekarang ini dunia sedang mengalami perkembangan teknologi yang sangat luar biasa khususnya perkembangan teknologi digital dan teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi di dukung oleh inovasi teknologi dari perusahaan-perusahan yang memproduksi Smartphone atau Ipad, perusahaan ini menyajikan produk yang didalamnya terdapat fitur-fitur yang memanjakan para penggunanya untuk mencari informasi dari internet, Chating, Melihat video, telepon atau aktivitas lainya yang berhubungan dengan dunia maya.

Pada tiga tahun terakir ini jumlah pengguna media sosial didunia maya mengalami peningkatan yang sangat signifikan, hampir semua kalangan menggunakan media sosial mulai dari anak-anak sekolah dasar, usia remaja, maupun dari kalangan orang tua. Perkembangan teknologi informasi tersebut tentunya mempermudah manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,  kebutuhan akan informasi atau layanan yang berbasis aplikasi untuk membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup

Selain dampak positif perkembangan teknologi informasi juga memberikan dampak negatif dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Yang sangat populer pada satu tahun terakhir ini adalah banyak beredarnya berita “ hoak “. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Hoak mempunya arti informasi bohong atau informasi yang tidak jelas sumbernya dari mana. Belakangan ini munculnya berita hoak menyebar luas lewat aplikasi media sosial seperti; Facebook, Whatapps, Tweter , Bloger dll. Berita “hoak”  atau berita bohong ini dimunculkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah persatuan bangsa dan kehidupan sosial, mendiskritkan tokoh atau suatu produk tertentu dilingkungan masyarakat. Dan ada juga berita hoak untuk motif penipuan.

Dampak negatif  dari munculnya berita bohong dalam kehidupan masyarakat antara lain;

  1. Terkikisnya rasa persatuan dan kesatuan antara satu ras, agama, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
  2. Terjadi fitnah dan prasangka antar pihak-pihak yang menjadi sasaran penyebaran berita bohong
  3. Munculnya keresahan di masyarakat
  4. Memungkinankan terjadinya konflik sosial atau pertikaian antar golongan.
  5. Merugikan pihak-pihak yang nama atau produknya menjadi sasara dari berita bohong.

Berita bohong atau “hoak” dibuat oleh pihak yang ingin membuat kegaduhan dimasyarakat atau meyebarkan fitnah kepada kelompok tertentu. Yang menjadi masalah serius adalah sebagian besar dari masyarakat ikut menyebarluaskan berita bohong tersebut. Berita hoak disebarluaskan melalui media sosial, Para pengguna media sosial yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Mereka menyebarkan berita hoak dari beranda media sosial atau percakapan yang ada di Group Whatapps ke semua pertemanan yang terjalin di media sosial tanpa melihat kebenaran fakta tentang informasi tersebut.

Berita “ hoak “ sangat berbahaya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara karena mampu memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indoneisa, oleh karena itu semua komponen bangsa ini harus memutus mata rantai penyebaran berita bohong ini. Sebagai penyelenggara pendidikan guru memiliki peran yang strategis untuk melawan hoak dari sekolah, Karena lewat pendidikan guru bisa memberikan edukasi tentang ciri-ciri berita “hoak” dan sikap yang harus diambil jika mendapatkan informasi bohong tersebut. Edukasi yang pertama kita lakukan adalah dengan memberikan informasi kepada anak tentang ciri-ciri berita hoak yang ada di sekitar kita, adapun ciri-ciri dari berita hoak adalah sebagai berikut;

  1. Sumber beritanya berasal dari situs abal-abal atau blog-blog yang tidak kredibel
  2. Judulnya bermuatan provakatif atau menyudutkan pihak-pihak tertentu
  3. Mencamtumkan foto-foto yang direkayasa dengan tujuan mendapatkan simpati dari yang melihat
  4. Beritanya tidak aktual, berita lama bisa dinaikan lagi untuk mencari sensasi
  5. Isi beritanya membuat kebencian dan kecemasan
  6. Berita bahong biasanya minta untuk disebarkan atau diviralkan.

Dari beberapa ciri-ciri  berita hoak yang teruraikan diatas maka kita sebagai pendidik yang ada di lingkungan pendidikan selalu memberikan edukasi dan informasi yang jelas kepada anak didik untuk mengenali informasi bohong dan memutus mata rantai penyebaran berita bohong yang marak beredar melalui media online, facebook, Whatsaps, dan media lainya.

Langkah nyata kita dalam melawan berita “ hoak “ dari sekolah adalah melalui beberapa kegiatan berikut;

1. Pendidikan literasi

Literasi diartikan sebagai kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas. Pendidikan literasi saya kira sangat ampuh untuk menangkal berita bohong yang beredar luas lewat media sosial. Pengguna media sosial yang paling banyak adalah dari kalangan siswa sekolah dasar sampai mahasiswa dari perguruan tinggi, sehingga melalui lembaga pendidikan ini kita mampu menekan dampak negatif dari berita “hoak”.

Melalui pendidikan literasi anak di biasakan untuk bersikap kritis terhadap informasi dan data yang tersaji di media sosial. Ketika muncul informasi di media sosial hendaknya di teliti tentang sumber datanya, penulisan beritanya serta gambar-gambar yang ditampilkan dalam berita tersebut. Hal lain yang harus diteliti ketika mendapat berita atau informasi adalah keaktualan berita dengan kondisi nyata yang terjadi pada saat ini dengan menggunakan referensi dari media masa atau situs-situs yang kredibel.

2. Tidak ikut membagikan berita “hoak” di media sosial

Hal sering terjadi di kalangan pengguna media sosial saat ini adalah membagikan pesan dari laman yang tidak jelas ke dinding facebook atau di group Chating, jika berita itu terindikasi merupakan berita bohong maka sebaiknya kita tidak ikut membagikan informasi bohong ini. Bila diperlukan cari data yang valid kemudian disampaikan kebenaran informasi sesuai dengan fakta yang terjadi

3. Mengajak orang tua untuk mengawasi anak dalam menggunakan media sosial

Orang tua memiliki peran penting terhadap pendidikan anak diluar lingkungan sekolah. Pengawasan orang tua kepada anak ketika menggunakan media sosial sangat diperlukan, orang tua juga perlu memberikan wawasan tentang informasi yang benar dan informasi yang salah. Hal ini sangat efektif untuk mengurangi dampak negatif dari berita hoak.

Ada beberapa cerita yang menarik seputar berita bohong atau hoak yang pernah kita alami di sekolah kami. Yang pertama berita hoak yang terjadi di sekolah tempat kami bekerja yaitu SMK Asta Mitra Purwodadi, suatu saat ada pesan singkat lewat SMS yang di kirim kepad guru-guru SMK Asta Mitra yang mengatas namakan kepala sekolah SMK Asta Mitra isi dari pesan itu adalah menugaskan kepada guru untuk mengikuti kegiatan diklat yang diselengarakan oleh direktorat pembinaan SMK di Jakarta, guru-guru diminta untuk menghubungi nomer dari panitia penyelenggara, setelah dilakukan komunikasi dengan kepala sekolah berita tersebut merupakan berita bohong atau Hoak, maka segera di informasikan kepada seluruh guru yang ada untuk mengabaikan informasi tersebut oleh pihak kepala sekolah.

Cerita kedua yang masih terkait dengan hoak adalah adanya sebuah pesan lewat email sekolah yang isinya permintaan data siswa yang berprestasi, setiap kelas diminta peringkat satu sampai tiga. Pesan singkat itu di buka oleh staff tata usaha kemudian disampikan kepada kepala sekolah dan kepala sekolah segera meminta wakil kepala sekolah bidang kesiswaan untuk merekap data siswa berprestasi dan mengirimkanya ke alamat email sesuai alamat yang tercantum dari surat yang mengatasnamakan dari DITPSMK. Ada kejanggalan dari email tersebut yaitu ketika data sudah dikirimkan ada email lagi yang sejenis sampai 3 kali yang isinya sama, Setelah 2 minggu berselang baru diketahui ternyata isi email itu adalah bohong hal ini diperoleh setalah dari website resmi ditpsmk memberikan keterangan yang dikirim ke sokalah-sekolah ternyata adalah “hoak”.

Dari cerita tentang hoak diatas bisa kita simpulkan bahwa hoak menimbulkan keresahan dilingkungan masyarakat. Oleh karena itu semua komponen masyarakat ikut berperan dalam menghadapi ancaman berita bohong. Sebagai tenaga pendidikan kita harus mulai melawan “ hoak” dari sekolah.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *