Kenali Produk Pemutihmu

Wanita di seluruh dunia secara alamiah ingin terlihat menarik dan cantik. Salah satu keinginan terlihat cantik yaitu dengan memiliki kulit yang putih. Keinginan terlihat putih telah meningkatkan kesadaran pada kaum wanita tentang pentingnya melakukan perawatan terhadap kulit wajah maupun badan. Sebagian besar wanita Asia Tenggara, khususnya di Indonesia memiliki warna yang lebih gelap terutama disebabkan karena paparan sinar UV A maupun UV B. Sinar UV A dan UV B ini dihasilkan akibat paparan sinar matahari

Salah satu cara mengurangi hiperpigmentasi kulit adalah dengan menggunakan whitening agent. Beberapa mekanisme dari produk kimia whitening agent diantaranya seperti mengurangi konsentrasi melanin. Saat ini mencerahkan kulit adalah salah satu prosedur paling umum untuk meningkatkan pigmentasi pada kulit. Pemutih kulit ini telah banyak menjadi perhatian di bidang kosmetik untuk dikembangkan oleh para peneliti dan industri farmasi, pengembangannya di pasaran sudah ada dalam bentuk sunscreen, cream, ataupun lotion

Warna kulit seseorang ditentukan oleh melanin, melanin adalah hasil sintesis biopolimer melanosome. Melanin disintesis dalam melanosit di lapisan basal epidermis dengan proses melanogenesis. Melanosom mengandung tiga enzim melanogenic yang spesifik seperti tyrosinase, tyrosinase protein1 (TRP 1) dan tyrosinase protein 2 atau dopachrone tautomerase (Dct). Tyrosinase ini merupakan enzim kunci dari produksi melanin yang menjadi target mekanisme kerja dari whitening agent, yaitu dengan menghambat enzim tyrosinase. Contohnya adalah hydroquinone, ascorbic acid, kojic acid, arbutin.

Hydroquinone merupakan zat aktif yang paling sering digunakan dalam beberapa jenis produk kosmetik pemutih. Hydroquinone adalah senyawa hidroksifenolik yang menghambat sintesis melanin dengan menghambat enzim tirosinase, selain itu juga dengan mengganggu pembentukan atau degradasi melanosom dan dengan menghambat sintesis DNA dan RNA dalam melanosit. Penggunaan hydroquinone dapat menyebabkan permasalahan dermatologis seperti dermatitis, ochronosis, depigmentasi permanen dan efek samping karsinogenik. Pada konsentrasi mulai dari 2% hingga 5%, dapat menyebabkan beberapa efek yang tidak diinginkan seperti iritasi dermatitis, dermatitis kontak, pigmentasi pasca-inflamasi, ochronosis, dan perubahan warna kuku.

Arbutin merupakan turunan dari hydroquinone yang paling sering digunakan dalam industri kosmetik dari pada senyawa induknya, karena kurang berbahaya. Bahkan, ditambahkan ke kosmetik sebagai senyawa murni atau melalui ekstrak dari Arctostaphylos uva-ursi dan Arbutus unedo. Arbutin adalah hidrokuinon glikosida dengan 2 isoform, 4-hydroxyphenyl glucopyranoside dan 4-hydroxyphenylglucopyranoside. Arbutin diperoleh dari berbagai tanaman di Indonesia Ericaceae (bearberry, pohon stroberi, huckleberry, heather), Saxifragaceae, Asteraceae, Rosaceae, Keluarga Lamiaceae, dan Apiaceae. Turunan sintetiknya, deoxyarbutin (4- (tetrahydro-2H-pyran-2-yl) oxy] fenol) memiliki keuntungan dibandingkan arbutin yaitu lebih efektif dan sitotoksik yang rendah. Arbutin banyak digunakan sebagai agen depigmentasi dengan menghambat aktivitas tirosinase karena kesamaan struktural dengan substrat tirosin. Arbutin menghambat reaksi keduanya yang dikatalisis oleh tirosinase, hidroksilasi L-tirosin dan oksidasi L-DOPA. Arbutin dianggap aman bagi konsumen pada konsentrasi hingga 2% dalam produk kosmetik. Namun, partikel nano formulasi dengan konsentrasi 10% b / b dan arbutin 15% b / b telah dipatenkan.

Tretinoin adalah bentuk asam karboksilat dari vitamin A (retinol). Mekanisme kerja tretinoin melibatkan penghambatan induksi tirosinase, dispersi butiran pigmen keratinosit, penghambatan transfer melanin dan percepatan pergantian epidermal. Namun, aplikasi tretinoin disertai dengan iritasi kulit yang tergantung pada dosis tertentu. Penggunaan tretinoin dibatasi oleh kelarutan air yang rendah dan ketidakstabilan yang tinggi di udara, cahaya dan panas. Produk degradasi yang dihasilkan adalah isomer dari tretinoin.

Beberapa turunan dari vitamin C telah menunjukkan efek pengurangan produksi melanin dan meningkatkan kecerahan kulit ketika diaplikasikan secara topikal. Turunan dari vitamin C ini seperti L-ascorbic acid, magnesium ascorbyl phosphate dan sodium ascorbylphosphate. Biasanya zat- zat ini digunakan masing – masing ataupun kombinasi  dan menurunkan hiperaktif dari melanosit sehingga kulit menjadi lebih cerah. Asam L-askorbat adalah bentuk vitamin C yang aktif secara biologis dan bermanfaat, larut dan berfungsi dalam kompartemen sel yang berair selain dari regenerasi vitamin E dapat meningkatkan sintesis kolagen, dan memberikan perlindungan antioksidan yang bertindak sebagai zat pereduksi yang memblokir reaksi berantai oksidasi dari produksi melanin di berbagai titik. Penghambatan melanin ini menghasilkan kulit yang lebih terang dan cerah hanya dalam beberapa minggu. Asam L-askorbat dilaporkan memiliki keamanan dan efisiensi yang sangat baik dan tidak beracun dengan iritasi yang minim. Namun zat ini harus diformulasikan pada pH kurang dari 3,5 untuk berpenetrasi ke dalam kulit dan konsentrasi maksimum untuk penyerapan per kulit yang optimal dilaporkan sebesar 20%. Asam L-askorbat juga digunakan secara topikal karena kemampuannya mengurangi keriput dengan meningkatkan sintesis kolagen dan aktivitas depigmenting kulitnya. Karena efek yang menguntungkan ini, asam L – askorbat telah lama digunakan dalam farmasi dan formulasi kosmetik.

Kojic Acid (KA) (nama ‘asam kojic’ berasal dari “Koji”) adalah bahan kimia Asam Kojic (5-hydroxy – 2- hydroxyl methy-4-pyrone adalah produk jamur hidrofilik yang berasal dari spesies tertentu Acetobacter, Aspergillus dan Penicillium. Zat ini diperoleh dari berbagai jenis jamur seperti A. flavus, A. oryzae, A. tamarii, dan A. parasiticus  dan juga diproduksi dari fermentasi beberapa makanan Asia (mis. Kecap dan anggur beras), yang bertindak sebagai primer untuk jamur atau inokulum. Mirip dengan whitening agent kulit lainnya seperti HQ dan arbutin, KA menghambat enzim tyrosinase, terutama disebabkan karena KA dapat mengkelatkan tembaga. Telah dilaporkan KA memiliki potensi sensitisasi yang tinggi dan dengan demikian dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan. Iritasi ini dapat dikurangi dengan menggabungkan nya dengan kortikosteroid topikal. Data mendukung keamanan penggunaan KA pada konsentrasi 2% dalam  kosmetik.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *