Kemunduran Perilaku Sopan Santun (Etika) Kalangan Pelajar di Lingkungan Sekolah

Sudah tidak terasa masa bergelut dengan pandemi covid-19 mulai berangsur-angsur menurun. Sekolah-sekolah sudah mulai membuka pembelajaran tatap muka terbatas, yang selama musim pandemi kegiatan belajar mengajar dilakukan Daring (Pembelajaran Jarak Jauh). PJJ dibilang banyak kendala dan kekurangan dalam pelaksanaan. Tetapi dengan pembelejaran tatap muka terbatas seperti yang sekarang bukan berarti tidak ada kendala. Selain terbatas dalam aktivitas belajarnya, terbatas jumlah siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran, ada yang lebih dari itu yaitu kurangnya budaya sopan dan santun atau etika siswa baik kepada guru ataupun kepada sesama temannya di lingkungan sekolah.

Dalam hal sopan santun mungkin sebagian acuh atau apalah…suatu yang remeh temeh. tapi jika dikaji lebih lanjut akan menimbulkan efek domino yang luar biasa terhadap diri si anak dan lingkungannnya. Sebagai contohnya yang menunjukkan kemunduran dalam beretika, dari cara anak atau siswa dalam berpakaian ke sekolah masih menggunakan seragam yang tidak sesuai, ketika ada berjalan ada guru di depannya si anak santai seolah tidak ada siapa-siapa disana, dalam istilah sekarang cuek bebek. Tiada menegur gurunya atau hanya sebatas permisi bapak, permisi ibu, mari pak..ibu…Atau ketika berbicara dengan bapak ibu guru yang bersangkutan siswa masih menggunakan kata aku bukan saya, menggunakan bahasa daerah, bahasa seahri-hari dengan temannya. Iya sih itu sebuah hal yang sepele..tapi apa dibenarkan hal semacam itu terus terjadi… haruskah kita melumrahkan peristiwa—peristiwa tersebut.

Apa yang terjadi dengan kita? apa yang terjadi dengan mereka? Dimanakah perkembangan karakter yang dibina dari awal? Salah siswa atau kita kah sebagai orang yang dewasa? Tidak dipungkiri bukan serta merta kita yang bersalah dan bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Bukan juga salah siswa sendiri…. benar salah kita semua.. bukan menjadi alasan karena pandemi yang menjadi penyebab.. perlu diingat bahwa suatu kebiasaan itu terjadi dari sesuatu yang dipaksakan, terpaksa dan terbiasa..

Begitu juga karena mungkin dari segi keluarga yang cuek dan sibuk dengan kesibukan (pekerjaannya) yang membuat itu semua tidak penting, yang penting anak sekolah, saya bayar SPP nya. Ada juga sebab lain yang ketika anak salah bertutur kata dengan gurunya dengan bahasa yang tidak seharusnya tetap dilayani tanpa menegur nya dan si anak akan tetap menganggap aman jadi lama-lama akan menjadi sesuatu yang lazim atau lumrah walaupun itu sejatinya salah.

Apalah artinya jika mempunyai anak yang pintar tetapi tidak punya akhlak/etika. Marilah kita sama-sama memberikan dan mengarahkan perkembangan siswa ke arah yang benar. Sama-sam mempunyai tanggungjawab terhadap anak didik kita. Jika salah tegurlah, dan berikan penjelasan dan pengetahuan sehingga tanpa disadari si anak tahu kesalahannya tetapi tanpa merasa di gurui dan dihakimi.

Jadikan anak-anak kita menjadi penerus yang unggul dan beretika baik..salam santun untuk bapak ibu guru pendidik seluruh Indonesia

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *